Tentang Desa Matarape

Sekilas Tentang Desa Matarape
A. Letak dan Administrasi

Desa Matarape merupakan salah satu dari 14 desa yang termasuk dalam Kecamatan Menui Kepulauan, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah. Desa ini berada di area kepulauan dan perairan Teluk Matarape, dengan dominasi komunitas suku Same-Bajau (Bajo) dan berbatasan langsung dengan Laut Banda di selatan.

B. Populasi dan Infrastruktur

Kecamatan Menui Kepulauan memiliki sekitar 13.900 jiwa pada pertengahan 2022. Meskipun desanya relatif terpencil, Desa Matarape telah mulai menikmati layanan listrik PLN sejak akhir tahun 2021 berkat perjuangan berbagai pihak demi mendukung kemerdekaan akses bagi warga setempat.

B. Pendidikan

Terdapat SD Negeri Matarape, sekolah dasar negeri yang berdiri sejak 1 Juni 1970. Sekolah ini berpangkalan di Desa Matarape dengan akreditasi B berdasarkan SK tanggal 9 September 2019. Fasilitasnya meliputi akses listrik dan koneksi internet sederhana yang mendukung proses belajar mengajar.

D. Isu Sosial dan Kehidupan Masyarakat

Desa Matarape sering menjadi lokasi dialog antara masyarakat dengan perusahaan tambang seperti PT KPI atau PT NPM. Berbagai tuntutan masyarakat terkait kompensasi, lapangan kerja lokal, beasiswa, pengadaan air bersih, hingga pembangunan infrastruktur telah difasilitasi oleh pemerintah daerah hingga mencapai titik temu secara konstruktif (Sumber Informaasi).

Pada tahun 2022, pemerintah juga menghentikan sementara aktivitas pembangunan jetty oleh PT KDI karena belum memiliki izin lingkungan dan usaha pertambangan yang sah, sebagai bentuk penegakan regulasi dan perlindungan warga Desa Matarape (Sumber Informasi).

E. Ketahanan Pangan & Keamanan

Peran aparat keamanan seperti Bhabinkamtibmas sangat aktif dalam mendukung ketahanan pangan masyarakat dengan menyediakan bibit sayuran, serta menjaga situasi keamanan yang kondusif menjelang Pilkada Morowali 2024


Desa Matarape adalah desa pesisir yang berlatar tradisi suku Bajo, dengan perkembangan memberikan sinyal kemajuan berupa akses listrik, penguatan pendidikan, serta dialog sosial yang inklusif. Tantangannya kini adalah merealisasikan potensi itu melalui sinergi warga, pemerintah desa, dan pemangku kepentingan lainnya agar menuju kemandirian, keadilan, dan kesejahteraan bersama.